Text
Living Quran : Menelusuri Tafsir Semiotika Versi Arkoun
The Living al-Qur'an atau "al-Qur'an yang hidup" adalah ungkapan yang tidak asing bagi kebanyakan orang Islam. Di kalangan mereka ungkapan ini dapat dimaknai berbagai macam. Pertama, ungkapan tersebut bisa bermakna "Nabi Muhammad" dalam arti yang sebenarnya, yaitu sosok Nabi Muhammad SAW, karena menurut keyakinan umat Islam akhlak Nabi Muhammad SAW adalah al-Qur'an.
Dalam al-Qur'an disebutkan bahwa pada diri Nabi Muhammad SAW terdapat contoh yang baik. Hal ini diperkuat oleh hadits dari Siti Aisyah r.a., yang mengatakan bahwa akhlak Nabi Muhammad SAW adalah al-Qur'an. Artinya, beliau selalu berperilaku dan bertindak berdasarkan pada apa yang terdapat dalam al-Qur'an. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW adalah "al-Qur'an yang hidup," al-Qur'an yang mewujud dalam sosok manusia. Kedua, ungkapan tersebut juga bisa mengacu pada suatu masyarakat yang kehidupan sehari-harinya menggunakan al-Qur'an sebagai kitab acuannya. Mereka hidup dengan mengikuti apa-apa yang diperintahkan dalam al-Qur'an dan menjauhi hal-hal yang dilarang di dalamnya, sehingga masyarakat tersebut seperti "al-Qur'an yang hidup," al Qur'an yang mewujud dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kita tidak mempunyai contoh konkret dari masyarakat semacam ini, dan mungkin juga masyarakat semacam ini belum pernah ada, karena dalam masyarakat Islam yang manapun selalu saja terdapat bentuk-bentuk kehidupan, pola-pola perilaku, tindakan dan aktivitas yang tidak berdasarkan al-Qur'an.
2100247 | 2x1.31 MUH l | Perpustakaan IAIN Parepare (Lantai 2 Al-Qur'an (2X1)) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain